Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Kun anta

Karena wah tak harus mewah Karena bergengsi tak harus berhak tinggi Karena pekerjaan mulia tak melulu harus sarjana Karena sukses juga boleh untuk pedagang es Karena kita beda, hanya ber-Tuhan sama. Karena Tuhan yang tau seberapa banyak porsi yang musti kau ambil. Karena Tuhan yang tau mana bagianmu dan bukan. Karena Tuhan yang tau mana hakmu. Karena Tuhan yang tau kadar kemampuanmu. Karena kau hanya memilih jalan, bukan menentukan. Karena kau harus menerima bukan hanya meminta. Karena kau harus berusaha bukan hanya bersandiwara. Karena kau, aku, dan mereka adalah sama yang berbeda.

Ketika tak ada alasan lagi untuk iri

  Ketika tak ada alasan lagi untukku iri terhadap orang lain.   Si A yang kini sedang beruntung mendapat beasiswa kedokteran, aku tak perlu iri. Karena hidupnya sebelum itu jauh lebih berat nan menyakitkan. Mungkin aku sendiri pun tidak sanggup jika harus menggantikannya. Aku puas dengan kasih sayang kedua orang tuaku, tapi mungkin dia hanya bisa berbalas pesan dengan keduanya. Bahkan orang tuanya tak lagi bersama. Yang harus digantikan dengan sosok tulang punggung yang baru.   Si B yang kini menjalani study sebagai tenaga medis. Hidupnya pun tak semulus diriku. Sama cerita, kedua orang tuanya berpisah. Sang ibu tak lagi bersamanya. Dan ayahnya telah berpulang. Dan aku mungkin juga masih tidak akan sanggup berdiri disana.   Si C mendapatkan kampus favorit di kota semarang. Apa yang harus ku irikan, ketika melihat spion, ia pernah pula merasakan broken home. Gadis belia yang harus merasakan dan melihat bagaimana ketidak rukunan orang tuanya.   Dan banyak kisa...

Don't judge me

jika bisa memilih. jangan hanya menghakimi prosesku. jalan ini berat tapi harus didaki. aku pun tak menginginkan menginjak kerikil2 tajam, tapi apalah, kakiku terlanjur tergores. jika hanya menyesal bisa mengobati, maka akulah yang menjadi orang paling frustasi akan penyesalan. jangan hanya kau genggam dan arahkan, sesaat, peluklah aku dan bisikkan sesuatu agar tak ku pijak ranting tajam pula. bismillah hijrah

Kepala vs bokong

  Ini pengalaman tarawih pertama saya di hari ke-3 bulan Ramadhan tahun ini.   Jadi, Saya sholat berjamaah di salah satu mushola sekitar rumah dan berada di shaf paling belakang (menurut saya. Karena untuk satu shaf lagi sepertinya sudah tidak muat. Yah walaupun masih ada renggang sedikit tapi ada tumpukan kursi. Jadi, yaaah bisa dibayangkan lah).   Kemudian, datanglah seorang nenek. Beliau berada di belakang shaf saya dan berada di ujung. Yup di depan tumpukan kursi dengan renggang yang hanya seupil tadi.  Di depan nenek tadi ada tetangga saya, namanya Mbak Eni. Disamping kiri Mbak Eni ada saya dan jamaah lain. Sebetulnya, Saya udah bilang ke nenek itu, oke, namanya Mbah Jeprik, " mbah, njenengan ngajeng mriku, mengke damel sujud mboten cekap"  (Mbah, Anda kedepan situ, nanti buat sujud nggak cukup). Tapi beliaunya ngeyel. Beliau bilang, "wis ora popo. Ning kene wae"  (sudah tidak apa-apa. Disini saja).   Karena sudah qomat, jamaah pun sholat. Diaw...

Pertanyaan horor lulusan SMA

Well, blog ini dibuat untuk sekedar curhat. Dan mungkin, orang diluar sana pun memiliki pengalaman sama.   Sebagaimana seorang remaja yang baru lulus SMA, kelabilan itu pasti terjadi. Mulai dari urusan asmara hingga "lanjut kemana setelah ini?"   Kita bahas tentang bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan "lanjut dimana?"   Jadi, jika para orang tua bertanya ke kakak Saya dengan pertanyaan horor "kapan nikah?" Atau yang lebih parah "itu udah pantes gendong anak, kapan punya sendiri?" Saya pun diberondong pertanyaan horor. Bukan. Bukan tanya tentang "kapan nikah"  tapi tentang pertanyaan "lanjut kemana setelah ini?"  Pertanyaan itu udah kayak pertanyaan wajib para sesepuh ketika kita berjumpa dengan mereka. Menyebalkan? Memang. Sangat.   Seakan mereka harus tahu kemana kita melangkah. Yaaah walaupun sebenarnya Saya tahu itu hanya basa-basi saja.   Jadi, Saya adalah satu diantara sekian banyak teman-teman saya yang lulus ...