Kepala vs bokong
Ini pengalaman tarawih pertama saya di hari ke-3 bulan Ramadhan tahun ini.
Jadi, Saya sholat berjamaah di salah satu mushola sekitar rumah dan berada di shaf paling belakang (menurut saya. Karena untuk satu shaf lagi sepertinya sudah tidak muat. Yah walaupun masih ada renggang sedikit tapi ada tumpukan kursi. Jadi, yaaah bisa dibayangkan lah).
Kemudian, datanglah seorang nenek. Beliau berada di belakang shaf saya dan berada di ujung. Yup di depan tumpukan kursi dengan renggang yang hanya seupil tadi. Di depan nenek tadi ada tetangga saya, namanya Mbak Eni. Disamping kiri Mbak Eni ada saya dan jamaah lain. Sebetulnya, Saya udah bilang ke nenek itu, oke, namanya Mbah Jeprik, "mbah, njenengan ngajeng mriku, mengke damel sujud mboten cekap" (Mbah, Anda kedepan situ, nanti buat sujud nggak cukup). Tapi beliaunya ngeyel. Beliau bilang, "wis ora popo. Ning kene wae" (sudah tidak apa-apa. Disini saja).
Karena sudah qomat, jamaah pun sholat. Diawali sholat isya'. Rokaat pertama sih aman, pas mau berdiri dari sujud pada rokaat ke-2 itu lho, tragedi terjadi. Seperti sudah terduga, kepala Mbah Jeprik kesodok pantatnya Mbak Eni. Terlihat umum sih memang. TAPI, seketika, Mbah Jeprik bicara lantang saat jamaah sedang khusyuk sholat isya'. Beliau bilang "yuohno, buokonge giedi neram. Nyundul ndhas". (Yuh, pantatnya buesar bianget. Nyundul kepala). Satu mushola mungkin dengar terutama wanita yang ada di satu ruang. Itu ngomongnya kenceng woi. Dan itu saat sholat. Seketika, Saya harus nahan ketawa dan sholat menjadi tidak khusyuk.
Pulangnya, jadi pembicaraan hangat. Yup, yang mendengar cerita pun ikut tertawa. Anehnya, ini Mbah yang satu ini memang legend abis, besoknya ditanya sama nenekku, "bokonge sopo sing mbok omong gedhi? Tek ngasi nyudul ndhasmu?" (Pantat siapa yang kau bilang besar? Kok sampai nyundul kepalamu?) Beliay dengan santai menjawab "ora ki. Ora ngroso kesundul aku" (tidak tuh, saya tidak merasa kesundul).
Setelah hampir membatalkan sholat isya' ku, dengan santainya Anda melupakan itu Mbah Jeprik. Atau jangan-jangan yang semalam tarawih bukan Mbah Jeprik. "Hantu Mbah Jeprik".
Jadi, Saya sholat berjamaah di salah satu mushola sekitar rumah dan berada di shaf paling belakang (menurut saya. Karena untuk satu shaf lagi sepertinya sudah tidak muat. Yah walaupun masih ada renggang sedikit tapi ada tumpukan kursi. Jadi, yaaah bisa dibayangkan lah).
Kemudian, datanglah seorang nenek. Beliau berada di belakang shaf saya dan berada di ujung. Yup di depan tumpukan kursi dengan renggang yang hanya seupil tadi. Di depan nenek tadi ada tetangga saya, namanya Mbak Eni. Disamping kiri Mbak Eni ada saya dan jamaah lain. Sebetulnya, Saya udah bilang ke nenek itu, oke, namanya Mbah Jeprik, "mbah, njenengan ngajeng mriku, mengke damel sujud mboten cekap" (Mbah, Anda kedepan situ, nanti buat sujud nggak cukup). Tapi beliaunya ngeyel. Beliau bilang, "wis ora popo. Ning kene wae" (sudah tidak apa-apa. Disini saja).
Karena sudah qomat, jamaah pun sholat. Diawali sholat isya'. Rokaat pertama sih aman, pas mau berdiri dari sujud pada rokaat ke-2 itu lho, tragedi terjadi. Seperti sudah terduga, kepala Mbah Jeprik kesodok pantatnya Mbak Eni. Terlihat umum sih memang. TAPI, seketika, Mbah Jeprik bicara lantang saat jamaah sedang khusyuk sholat isya'. Beliau bilang "yuohno, buokonge giedi neram. Nyundul ndhas". (Yuh, pantatnya buesar bianget. Nyundul kepala). Satu mushola mungkin dengar terutama wanita yang ada di satu ruang. Itu ngomongnya kenceng woi. Dan itu saat sholat. Seketika, Saya harus nahan ketawa dan sholat menjadi tidak khusyuk.
Pulangnya, jadi pembicaraan hangat. Yup, yang mendengar cerita pun ikut tertawa. Anehnya, ini Mbah yang satu ini memang legend abis, besoknya ditanya sama nenekku, "bokonge sopo sing mbok omong gedhi? Tek ngasi nyudul ndhasmu?" (Pantat siapa yang kau bilang besar? Kok sampai nyundul kepalamu?) Beliay dengan santai menjawab "ora ki. Ora ngroso kesundul aku" (tidak tuh, saya tidak merasa kesundul).
Setelah hampir membatalkan sholat isya' ku, dengan santainya Anda melupakan itu Mbah Jeprik. Atau jangan-jangan yang semalam tarawih bukan Mbah Jeprik. "Hantu Mbah Jeprik".
Komentar
Posting Komentar