Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Selembar kain di matamu

  Begini, tentang rasa ini, tak usah kau pertegas. Aku tau sajak tak mungkin mewakili sebuah tujuan. Merpati tak mampu menuntun ke jalan impian.  Bagaimana jika ini diakhiri saja? Bukan, bukan untuk saling jauh atau apalah, tapi untuk bertanya, pantaskah? Pantaskah semua diperjuangkan? Atau kau mau mengadu pada seseorang dan kemudian menyalahkan keadaan untuk setiap hal yang bahkan sebenarnya hanya dalam lamunanmu semata. Jujur saja, jalan ini sebenranya terang, tapi seikat kain yang kau belit di matamu itu membuatmu berjalan tergupuh gupuh dan terkadang menabrak benda di sekitarmu. Tak sadarkah engkau bahwa kainmu itu sumber penderitaanku pula. Kau tak mampu melihatku yang berdiri tepat di depanmu. Aku yang menuntunmu menuju terangmu, menemanimu melewati liku, mencegahmu tersandung dan membiarian kakiku terluka karenanya, memberikan sandalku untuk kau pakai agar tak semakin tertatih kau berjalan dalam "kebutaan"mu, membiarkan kakiku telanjang tertempa dingin kerikil malam da...

Kutipan dari sebuah buku

We often hear, but do not listen we look, but do not care to see and touch, but do not need to feel. So the beauty of our world just passes us by without ever noticing. We do not even know what we are missing, for our life is filled with noises of our daily struggles. To chase after our ambition, or lust for perfect happiness. Only when we start listening Caring to see and feel through our mind's eye that a new world emerges under our every feet with all its glorious marvels, and the hope of a more fulfilled life. It is a living world of passion throbbing with the spirit of joy. But here, we're just observers, to journey through and enjoy its bounty. Taking only what we need for there's plenty to share. And leaving nothing behind but our fleeting memories. Although real, it is often a vision beyond our earthbound perception. But it is a tangible and reachable world for it resides within and around us. All we need to do is just to open our hearts, to feel and en...

Happy wedding

Perasaan baru kemarin kita lari2an ke sawah mengejar layangan putus. Perasaan baru kemarin kita berebut kelereng, ketapel, sampai mainan tamiya di arena punya temanmu. Perasaan baru kemarin kau membohongiku, kaos kaki yang kau gulung di dalam tasmu kau bilang itu donat dan menyuruhku menutup mata lantas kau suapiku dengan 'donat' itu. Perasaan baru kemarin kau pentas pantomime di SD dan aku duduk di bangku penonton lantas tertidur. Perasaan baru kemarin aku menangis karena kursi kesayanganku kau jadikan gawang lalu ketika kau tendang bolanya, kursi itu langsung patah tak berbentuk. Ya, kursi pun kita couple-an. Punyamu biru, punyaku merah, berbentuk hello kitty. Unch unyu. Perasaan baru kemarin kau memberiku julukan 'palek' alias ipa elek dan ku balas dengan 'kolek' alias iko elek. Ah. KEMARIN. Ternyata 'kemarin' telah berubah begitu cepat. Merubahmu menjadi sosok yang jauh lebih dewasa. Sosok yang sebentar lagi akan 'meninggalkan' keluarga...

Atas kehendak-Nya

  Kau dan dia tidak akan pernah bertemu. Kecuali karena-Nya. Yakinkan hatimu, tetaplah pada tujuan dan keistiqomahanmu. Tak perlu gelisah dan resah. Karena keresahan asalnya darimu sendiri. Dan pemilik ketenangan ialah Dia yang menciptakan.   Kau ini bagaikan sebutir pasir di gurun. Kau mungkin tak terlihat diantara yang lain, namun Dia maha melihat. Dia yang mengatur segalanya. Dia yang berhak mengujimu, bukan kau yang menguji-Nya. Tuhan berhak menempatkanmu dimanapun. Berpindah atau bahkan terbang terterpa angin. Tuhan berhak menerbangkanmu dengan angin apapun yang Dia mau. Bahkan dengan angin badai sekalipun. Tuhan juga berhak menjatuhkanmu dimanapun itu. Yang lantas menjadi pelajaran bagimu bagaimana untuk survive.   Hidup ini sudah diatur. Dan ada yang Maha pengatur. Tak perlu kau risau. Yakinlah itu dan hatimu akan tenang. Tenang karena kau selalu punya sandaran. Dia yang tak pernah tidur tidak akan membiarkanmu resah jika kau hanya mengadu kepada-Nya. Adukan saja...