Selembar kain di matamu
Begini, tentang rasa ini, tak usah kau pertegas. Aku tau sajak tak mungkin mewakili sebuah tujuan. Merpati tak mampu menuntun ke jalan impian. Bagaimana jika ini diakhiri saja? Bukan, bukan untuk saling jauh atau apalah, tapi untuk bertanya, pantaskah? Pantaskah semua diperjuangkan? Atau kau mau mengadu pada seseorang dan kemudian menyalahkan keadaan untuk setiap hal yang bahkan sebenarnya hanya dalam lamunanmu semata. Jujur saja, jalan ini sebenranya terang, tapi seikat kain yang kau belit di matamu itu membuatmu berjalan tergupuh gupuh dan terkadang menabrak benda di sekitarmu. Tak sadarkah engkau bahwa kainmu itu sumber penderitaanku pula. Kau tak mampu melihatku yang berdiri tepat di depanmu. Aku yang menuntunmu menuju terangmu, menemanimu melewati liku, mencegahmu tersandung dan membiarian kakiku terluka karenanya, memberikan sandalku untuk kau pakai agar tak semakin tertatih kau berjalan dalam "kebutaan"mu, membiarkan kakiku telanjang tertempa dingin kerikil malam da...