Selembar kain di matamu

  Begini, tentang rasa ini, tak usah kau pertegas. Aku tau sajak tak mungkin mewakili sebuah tujuan. Merpati tak mampu menuntun ke jalan impian.  Bagaimana jika ini diakhiri saja? Bukan, bukan untuk saling jauh atau apalah, tapi untuk bertanya, pantaskah? Pantaskah semua diperjuangkan? Atau kau mau mengadu pada seseorang dan kemudian menyalahkan keadaan untuk setiap hal yang bahkan sebenarnya hanya dalam lamunanmu semata. Jujur saja, jalan ini sebenranya terang, tapi seikat kain yang kau belit di matamu itu membuatmu berjalan tergupuh gupuh dan terkadang menabrak benda di sekitarmu. Tak sadarkah engkau bahwa kainmu itu sumber penderitaanku pula. Kau tak mampu melihatku yang berdiri tepat di depanmu. Aku yang menuntunmu menuju terangmu, menemanimu melewati liku, mencegahmu tersandung dan membiarian kakiku terluka karenanya, memberikan sandalku untuk kau pakai agar tak semakin tertatih kau berjalan dalam "kebutaan"mu, membiarkan kakiku telanjang tertempa dingin kerikil malam dan aspal membara kala siang. Hingga suatu ketika aku terjatuh dan berada di belakangmu saat kau memutuskan untuk membuka kain di matamu itu, hingga yang kau lihat pertama adalah orang lain. Kau menganggapnya sebagai orang yang selama ini kau anggap itu aku. Kau meninggalkanku dan paruh di kakiku. Kau pergi bahagia bersamanya tanpa kau tanya mengapa bukan aku orang yang pertama kau lihat setelah kau lepas dari terpurukmu. Tanpa kau tanya siapa yang selama ini disampingmu saat tak kau ketahui dunia ini, saat tak satupun dapat kau lihat dari alam ini, saat sekitarmu bahkan menganggapmu gila dan benar-benar buta. Bahkan saat itu mungkin hanya aku yang berkata bahwa kau adalah ada, kau adalah nyata, kau tak buta apalagi gila, kau adalah bagian dari takdir. Sampai saat ini, baru mungkin ku katakan bahwa sebenarnya kau telah buta setelah tak lagi buta. Ya, kau buta. Kau tak tau kebenarannya bahwa dia bukan aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman cabut kuku

Atas kehendak-Nya

Happy wedding